31 Jan 2011

kisah ibu bermata satu

KISAH IBU BERMATA SATU

Alkisah, tersebutlah seorang ibu miskin yang tinggal bersama putera tunggalnya di sebuah gubuk sederhana. Untuk menghidupi dan menyekolahkan anaknya ibu itu menjual makanan dan menerima pesanan.

Suatu hari, sekolah tempat anaknya belajar pesan makanan untuk para guru. Ketika mengantar makanan ke sekolah ibu itu mampir untuk melihat anaknya. Dengan penuh sukacita, ibu itu menyapa anaknya yang sedang bermain bersama teman-temannya. Segera ibu tersebut menjadi pusat perhatian, bahkan sebagian ada yang mengejek dan menertawakannya. Anak tersebut sangat malu dan mengacuhkan ibunya dan segera lari.

Sepulang sekolah anak tersebut sangat marah kepada ibunya yang mempermalukannya. Ibunya hanya diam dan meneteskan air mata setiap anak itu marah kepadanya.

Dari hari ke hari ia semakin membenci ibunya. Ia belajar keras dan ingin segera meninggalkan rumah dan ibunya. Ketika lulus sekolah menengah, ia berhasil mendapatkan bea siswa ke luar negeri. Dan ia berhasil lulus dengan nilai terbaik dan mendapatkan pekerjaan yang baik, menikah dan hidup bahagia dengan isteri dan anak-anaknya.

Sampai suatu saat ibunya muncul di rumahnya. Anak-anak pria itu menertawakan dan mengejeknya sehingga pria tersebut mengusir ibunya.

Ibu itu berdiri mematung, lalu dengan suara tersendat,” o maaf, mungkin saya salah alamat ,” dan segera berlalu dari rumah anaknya.

Waktu berlalu, suatu hari pria itu menerima undangan reuni di kampung halamannya. Sesudah acara reuni selesai, terpikir olehnya untuk mampir ke rumahnya hanya sekedar ingin tahu. Dari tetangganya ia mengetahui ibunya sudah meninggal dan memberikan surat yang dititipkan ibunya sebelum meninggal.

“ Anakku tersayang, saya merindukanmu. Saya minta maaf datang ke rumahmu dan menakutkan anak-anakmu. Saya sangat senang ketika mendengar kamu akan pulang untuk reuni. Tapi saya tidak bisa meninggalkan temat tidur untuk melihatmu. Saya minta maaf terus menerus membuatmu malu. Ada hal yang ingin ibu sampaikan kepadamu. Ketika kamu kecil, kamu kecelakaan dan kehilangan satu mata. Sebagai ibu, saya tak tega membayangkan kamu tumbuh besar dengan satu mata. Karena itu, saya memutuskan untuk memberikan satu dari mata saya kepadamu. Saya sangat senang, putra saya bisa melihat seluruh dunia dengan mata itu. Sayang selalu – ibumu.”

Moral cerita :

Hormati orang tua kita dan berterima kasih untuk segala hal yang dilakukannya bagi kita.
Bahkan tetap beri kata-kata baik, tenang, sopan, manis budi, perhatian dan kasih sayang serta kesabaran ketika orang tua kita tidak seperti yang kita harapkan dan tidak memperlakukan kita selayaknya orang tua.
Andaipun orang tua kita tidak melakukan seperti layaknya orang tua yang baik, tetap hormati dia meski itu hal yang sangat sulit. Karena melalui merekalah kita di berikan kehidupan. Dan suatu hari kelak, kita akan menjadi teladan bagi putra kita untuk bagaimana seharusnya bersikap kepada kita orang tuanya.
Miliki hati yang tulus dalam bersikap kepada siapapun dan berterima kasih untuk sekecil apapun yang orang lain perbuat untuk kita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar